

Kuliner enak tak selalu di tempat yang "adem" atau yang lokasinya oke punya. Ada juga lho kuliner kaki lima yang selalu diburu para pelanggannya. Bakso dan Mie Ayam "Mas Joni", salah satunya.
Kalau Anda melintasi Jalan Raya Casablanca arah Kampung Melayu pada sore atau malam hari, jangan kaget kalau mendapati kemacetan hanya gara-gara orang antre di gerobaknya Mas Joni. Ya, setiap sore pemandangan seperti itulah yang terjadi. Joni, sang penjual, hanya mengandalkan gerobak bakso dan mi ayamnya serta beberapa kursi plastik. Ia berjualan di trotoar, tepat di depan Gedung Staco atau tak jauh dari TPU Menteng Pulo.
Apa sih keistimewaannya? Saya pun mencobanya. Hmmm...lihat porsinya saja rasanya sudah kenyang. Bayangkan, satu porsi bakso seharga Rp 7.000 berisi enam bakso daging, dua bakso urat yang berukuran besar (plus isi telor puyuh di dalamnya), masih ditambah tahu. Pelengkapnya, mi kuning plus mi putih, dan taoge. Bisa membayangkan?
Soal rasa tak perlu ragu. Sejauh lidah saya mengecapnya, rasanya tak mengecewakan. Bakso terasa gurih dan enak. Joni, pria paruh baya, mengakui, ia memang mengedepankan rasa, ukuran porsi, dan harga. "Kalau bakso dan mi ayam saya enggak enak, orang mana mau mengantre lama di sini. Mungkin mikirnya, ah rasanya sama mending beli bakso yang lewat depan rumah," kata Joni kepada Kompas.com, Rabu (4/2/2010) sore.
Soal porsi memang cukup membuat saya terbelalak. Menyaksikan Joni membuat satu porsi mi ayam atau mi ayam bakso sempat terpikir, apa tidak rugi dengan memberikan porsi "jumbo" dengan harga yang dipasangnya. Satu mangkok mi ayam Rp 8.000, tetapi jangan bayangkan porsinya sama seperti mi ayam pada umumnya. Mas Joni akan menutupi mi dengan suwiran daging ayam yang luar biasa banyaknya. "Kenapa, kaget? Saya enggak pelit sama pembeli, itu kuncinya," kata dia.
Nah, kalau mi ayam bakso dengan harga Rp 10.000 pembeli bisa menikmatinya dengan porsi mi ayam jumbo itu, ditambah empat bakso daging dan sebuah bakso urat besar. Rasa dan ukuran porsi memang menjadi salah satu daya tarik bagi pembeli. Setidaknya diakui oleh salah seorang pelanggan, Yudho. "Porsinya banyak, enak, murah," katanya. Yudho mengaku sudah dua tahun terakhir menjadi pelanggan bakso dan mi ayam Mas Joni. Paling tidak, seminggu dua kali ia menyempatkan mampir seusai jam pulang kantor.
Bakso Mas Joni mulai berjualan pukul 4 sore hingga malam hari. Maka, tak heran, antrean panjang dan membeludaknya pembeli selalu mengakibatkan kemacetan karena pada jam-jam tersebut puncaknya arus pulang kantor. Akan tetapi, sumber kemacetan tersebut juga mengakibatkan setiap hari pelanggan bakso itu semakin bertambah.
"Tadinya saya jualan keliling kampung, terus di proyek-proyek pembangunan gedung. Baru 5 tahun terakhir jualan di sini. Posisinya strategis karena sering bikin macet, antre panjang, orang jadi penasaran. Alhamdulillah, yang beli setiap harinya nambah," kisah Joni yang sudah berjualan bakso sejak tahun 1983.
Tak ada rahasia khusus yang disimpan Joni sebagai kunci kenikmatan bakso dan mi ayamnya. "Bakso itu yang penting murah dan enak. Itu prinsip jualan di pinggir jalan. Kalau mahal, enggak ada yang mau beli. Saya juga punya prinsip 'seperak-seperak lama-lama jadi banyak'. Satu mangkok saya cuma ambil untung 200 perak," ujar perantau asal Trenggalek itu.
Setiap hari Joni bisa menjual lebih dari 500 porsi. Menurut dia, menyediakan persediaan dalam jumlah besar akan menekan modal. Sebanyak 15 kilogram mi ayam dan 50 kilogram daging dan bakso urat disiapkannya setiap hari. Untuk membantunya, Joni mempekerjakan dua karyawan asal "Portugal". "Purwokerto Tegal, ha-ha," kata Joni sambil tertawa.
Meski pelanggan bertambah banyak, Joni belum terpikir untuk membuka warung permanen. Selain persoalan modal, ia percaya adagium "beda tempat, beda rezeki". "Kalau di pinggir jalan gini, saya enggak repot promosi. Orang lihat sendiri, langsung mampir saja," ujar bapak tiga anak itu. Penasaran? Anda harus mencobanya!

